KRONIKTODAY.COM – Banjir bandang yang menerjang Desa Solimandungan 1 dan Solimandungan 2, tepat di momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, bukan sekadar bencana alam biasa. Di tengah gema takbir yang berkumandang dan suasana penuh makna tentang pengorbanan, musibah itu hadir seperti sebuah teguran sunyi dari alam sekaligus ujian besar bagi hati manusia.
Idul Adha mengajarkan bahwa tidak semua harta harus digenggam sendiri. Ada sebagian yang memang harus dilepaskan demi kemanusiaan, demi membantu mereka yang sedang menangis kehilangan rumah, pakaian, makanan, bahkan rasa tenang dalam hidupnya.
Di saat sebagian orang menikmati hidangan qurban bersama keluarga, ada saudara-saudara di Solimandungan yang justru membersihkan lumpur dari dalam rumah mereka. Ada anak-anak yang ketakutan, ada ibu-ibu yang menahan air mata, dan ada para kepala keluarga yang hanya bisa memandang puing serta kayu-kayu berserakan akibat derasnya arus banjir bandang.
Musibah ini seakan bertanya kepada para pemilik harta dan kekayaan: apakah kekayaan itu hanya cukup untuk dinikmati sendiri, ataukah masih ada ruang kepedulian bagi sesama yang sedang tertimpa derita?
Sebab dalam setiap harta yang dimiliki manusia, sesungguhnya terdapat hak orang lain yang membutuhkan. Ada bagian fakir, bagian korban musibah, bagian anak-anak lapar, dan bagian orang-orang yang hidupnya sedang jatuh dalam kesulitan.
Kaya bukan hanya tentang banyaknya harta, kendaraan, atau luasnya usaha. Karena tidak semua orang kaya memiliki hati yang dermawan. Tidak semua yang berlimpah mampu merasakan penderitaan sesama. Dan tidak semua yang memiliki kekayaan mempunyai kepekaan sosial ketika melihat saudaranya sedang tertimpa musibah.
Namun musibah di Solimandungan juga menghadirkan satu kenyataan yang menghangatkan hati: ternyata orang-orang kaya yang dermawan itu benar-benar ada.
Satu per satu bantuan datang. Ada yang membawa sembako, air mineral, mie instan, pakaian, alat kebersihan, selimut, kasur, kebutuhan bayi, minyak kelapa, beras hingga turun langsung membantu warga membersihkan lumpur dan puing-puing rumah dengan peralatan seadnya seperti sekop dan cangkul. Mereka datang tanpa banyak bicara, tanpa menunggu dipuji, dan tanpa menghitung untung rugi.
Mereka membuktikan bahwa kekayaan bisa menjadi jalan kemuliaan ketika dipakai untuk membantu sesama yang tertimpa musibah.
Di tengah duka masyarakat, kehadiran para dermawan itu menjadi cahaya harapan. Mereka meringankan beban warga yang sedang jatuh, menguatkan hati yang sedang lemah, dan menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat.
Tetapi Solimandungan masih membutuhkan banyak uluran tangan. Masih ada rumah yang rusak. Masih ada keluarga yang kehilangan perlengkapan hidup. Masih ada anak-anak yang membutuhkan perhatian dan bantuan. Dan di tengah semua itu, masyarakat mulai bertanya dengan penuh harap: siapa lagi orang kaya yang akan hadir berikutnya di Solimandungan?
Karena kenyataannya, belum semua orang yang memiliki kelebihan rezeki datang melihat penderitaan saudara-saudaranya sendiri.
Momentum Idul Adha ini seolah menjadi panggilan moral bagi siapa saja yang diberi kelapangan harta. Bahwa kekayaan sejatinya bukan hanya untuk meninggikan gaya hidup, tetapi juga untuk meninggikan nilai kemanusiaan.
Pemulihan Solimandungan memang tidak akan selesai dalam sehari. Namun luka masyarakat akan perlahan membaik apabila mereka yang diberi kelebihan rezeki mau membuka hati dan berbagi. Ketika sebagian yang memiliki membantu sebagian yang kehilangan, maka harapan akan kembali tumbuh, rumah-rumah akan kembali dibersihkan, dan kehidupan masyarakat akan berangsur pulih seiring berjalannya waktu.
Karena sesungguhnya, bencana tidak hanya menguji mereka yang tertimpa musibah. Bencana juga menguji manusia-manusia yang hidup berkecukupan: apakah hartanya mampu menjadi jalan keselamatan bagi orang lain, atau justru hanya menjadi tumpukan yang tidak pernah menghadirkan manfaat bagi sesama.
Catatan Redaksi Kroniktoday.com







