KRONIKTODAY.COM – Sebuah ungkapan narasi yang menyentuh perasaan sekaligus membawa suasana hati ikut tergiring memahami bagaimana cinta, kasih sayang dan kerinduan seorang ayah kepada anak-anaknya, tersaji dalam ruang sosial media facebook, pada akun milik Suharjo D Makalalag yang saat ini menjadi staf khusus Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow.
Sebagai seorang ayah, saya turut larut dalam suasana batin yang merasakan bagaimana kerinduan kepada anak-anak hadir ketika membaca narasi tersebut. Saya memposisikan diri sebagai seorang ayah dalam tulisan itu yang tinggal menuggu waktu untuk kembali berpisah jarak serta waktu. Jika kondisi ini kita yang mengalami, saya pastikan semahal apa pun air mata seorang ayah, pasti akan menetes.

Narasi itu membuat saya tertarik untuk dijadikan sebagai tulisan sederhana namun tidak merubah sedikitpun substansinya. Begini ulasanya:
Di sebuah rumah sederhana di Jakarta, hari-hari terakhir ini diisi dengan koper yang terbuka, dokumen yang disusun rapi, dan doa-doa yang tak putus dipanjatkan. Seorang ayah Suharjo D Makalalag menatap anak-anaknya—bukan dengan air mata yang jatuh, melainkan dengan hati yang penuh syukur dan getar rindu yang disimpan rapat.
Dari tujuh anaknya, dua di antaranya—Pasha, anak kedua, dan Nina, anak keempat—memilih jalan jauh dari pelukan orang tua demi satu tujuan yang sama: ilmu.

Nina sedang libur kuliah. Tiga minggu terakhir ia menemani ayahnya di Jakarta, mengurus satu peristiwa besar dalam keluarga: keberangkatan kakaknya, Pasha, menuju Madinah, Arab Saudi. Pasha diterima sebagai penerima beasiswa S1 di Madinah University, dan InsyaAllah akan berangkat dini hari tanggal 5 Januari. Di waktu yang hampir bersamaan, Nina pun bersiap kembali ke Makassar untuk melanjutkan semester empat di UNHAS.
Dua kepergian. Dua arah. Satu hati ayah yang sama. Kepada Pasha, sang ayah teringat satu keputusan besar yang dulu sempat membuatnya terdiam lama. Saat nilai-nilai Pasha begitu baik di salah satu SMA kenamaan di Manado—bahkan membuka peluang menuju kampus teknik impian sang ayah—Pasha justru memilih berhenti sekolah. Ia pulang, mencari sendiri ustaz dan pondok di Kotamobagu, menapaki jalan Al-Qur’an: menghafal 30 juz, belajar bahasa Arab, dan menyiapkan diri dengan tekad yang tak tergoyahkan.
“Ayah,” kata Pasha kala itu, “keluarga kita sudah banyak yang jadi insinyur dan dokter. Tapi berapa yang pergi menuntut ilmu Al-Qur’an, hadis, dan syariah?”

Pertanyaan itu memeluk hati sang ayah lebih kuat dari kata-kata. Ia hanya bisa merangkul anaknya erat-erat, lalu berkata lirih, “Siapkan barang-barangmu. Kita pulang. Ayah tidak akan menghalangimu.”
Hari ini, doa itu berbuah. Pasha akan melangkah ke kampus yang sejak lama ia idamkan, memperdalam ilmu agama di tanah suci.
Kepada Nina, perpisahan terasa berbeda. Melepas anak perempuan pergi jauh selalu menyisakan cemas yang tak bisa sepenuhnya diucapkan. Namun Nina memilih jalannya sendiri—menuntut ilmu Gizi, mengurus seluruh proses pendaftaran dengan tangannya sendiri, hingga akhirnya lulus dan diterima di UNHAS. Sang ayah sempat berharap ia berkuliah lebih dekat dari rumah, tetapi Allah memilih mengabulkan doa-doa Nina.
Ayah dan ibu pun bergantian menemani di awal perkuliahan: memastikan kampusnya baik, kos-kosannya aman, lingkar pergaulannya sehat. Alhamdulillah, hingga semester tiga, nilai Nina semuanya A—bukti bahwa kepercayaan dan doa tak pernah sia-sia.
Di penghujung cerita, sang ayah menitipkan pesan yang tak pernah berubah, tak lekang oleh jarak dan waktu:
“Jangan pernah tinggalkan sholat.
Dan jika kami—ayah dan ibu kalian—telah tua, renta, dan tak berdaya,
jangan pernah tinggalkan kami.
Ajaklah kami tinggal bersama kalian hingga kami mati.”
Aamiin Allahumma Aamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Diakhir tulisan ini, sebagai seorang ayah, saya merasakan bagaimana larut dalam suasana kerinduan pada anak, sehingga saya pun berani menambahkan narasi seperti ini: Anak-anakku,
jalan yang kalian pilih tidak selalu mudah, dan ayah tahu, di depan sana akan ada lelah, rindu, dan air mata yang kadang jatuh diam-diam. Tapi ketahuilah, tidak ada perjuangan yang sia-sia jika diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan jujur.
Ilmu yang kalian kejar bukan hanya untuk membuat kalian pintar, tetapi untuk membuat kalian berguna, rendah hati, dan mampu menjaga nilai di tengah dunia yang sering menguji prinsip. Jika suatu hari kalian merasa sendiri, ingatlah: doa ayah dan ibu selalu lebih dulu sampai sebelum langkah kalian tiba di tujuan.
Bagi ayah sendiri, melepas kalian pergi adalah latihan terberat tentang keikhlasan. Ayah belajar bahwa cinta tidak selalu berarti menggenggam, tetapi merelakan demi masa depan kalian. Ayah belajar bahwa tugas orang tua bukan menentukan jalan hidup anak, melainkan menguatkan mereka agar tidak tersesat di jalan yang mereka pilih.
Jika kelak kalian jatuh, jangan malu untuk bangkit. Jika kalian lelah, jangan takut untuk berhenti sejenak. Pulihlah, lalu lanjutkan kembali dengan niat yang lurus. Dan jika suatu hari kalian berhasil, jangan pernah merasa lebih tinggi dari siapa pun—ingat dari doa siapa kalian tumbuh.
Ayah tidak menuntut kalian menjadi orang paling hebat, cukup menjadi anak-anak yang beriman, berilmu, dan berbakti.
Karena pada akhirnya, keberhasilan terbesar seorang ayah bukan pada gelar yang kalian sandang, melainkan pada akhlak yang kalian jaga.
Dan jika suatu hari nanti ayah menua, suara melemah, langkah melambat, biarlah ayah tahu bahwa perjuangan hari ini tidak pernah salah, karena ayah telah mengantarkan anak-anaknya bukan hanya pergi jauh, tetapi pergi dengan tujuan. Aamiin.
Penulis : Ali Kobandaha





